Showing posts with label Info Aceh Terkini. Show all posts
Showing posts with label Info Aceh Terkini. Show all posts

Wednesday, April 12, 2017

Sejarah Asal Muasal Nama Aceh Lengkap


Aceh merupakan sebuah nama dengan berbagai legenda dan mitos , sebuah bangsa yang sudah dikenal dunia internasional sejak berdirinya kerajaan poli di Aceh Pidie dan mencapai puncak kejayaan dan masa keemasan pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam di masa pemerintahan Sulthan Iskandar Muda hingga berakhirnya kesulthanan Aceh pada tahun 1903 di masa Sulthan Muhammad Daud Syah.
Dan walau dalam masa 42 tahun sejak 1903 s/d 1945 Aceh tanpa pemimpin, Aceh tetap berdiri dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya dari tangan Belanda dan Jepang yang dipimpin oleh para bangsawan, hulubalang dan para pahlawan Aceh seperti Tgk Umar, Cut Nyak Dhien dan lain-lain dan juga Aceh mempunyai andil yang sangat besar dalam mempertahankan Nusantara ini dengan pengorbanan rakyat dan harta benda yang sudah tak terhitung nilainya hingga Aceh bergabung dengan Indonesia karena kedunguan dan kebodohan Daud Beureueh yang termakan oleh janji manis dan air mata buaya Soekarno.
Banyak sekali tentang mitos tentang nama Aceh, Berikut beberapa mitos tentang nama Aceh :

1. Menurut H. Muhammad Said (1972), sejak abad pertama Masehi, Aceh sudah menjadi jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Aceh menjadi salah satu tempat singgah para pelintas. Malah ada di antara mereka yang kemudian menetap. Interaksi berbagai suku bangsa kemudian membuat wajah Aceh semakin majemuk. Sepeti dikutip oleh H.M. Said (Pengarang Buku Aceh Sepanjang Abad) catatan Thomas Braddel yang menyebutkan, di zaman Yunani, orang-orang Eropa mendapat rempah-rempah Timur dari saudagar Iskandariah, Bandar Mesir terbesar di pantai Laut Tengah kala itu. Tetapi, rempah-rempah tersebut bukanlah asli Iskandariah, melainkan mereka peroleh dari orang Arab Saba.Orang-orang Arab Saba mengangkut rempah-rempah tersebut dari Barygaza atau dari pantai Malabar India dan dari pelabuhan-pelabuhan lainnya. Sebelum diangkut ke negeri mereka, rempah-rempah tersebut dikumpulkan di Pelabuhan Aceh.
2. Raden Hoesein Djajadiningrat dalam bukunya Kesultanan Aceh (Terjemahan Teuku Hamid, 1982/1983) menyebutkan bahwa berita-berita tentang Aceh sebelum abad ke-16 Masehi dan mengenai asal-usul pembentukan Kerajaan Aceh sangat bersimpang-siur dan terpencar-pencar.

3. HM. Zainuddin (1961) dalam bukunya Tarich Aceh dan Nusantara, menyebutkan bahwa bangsa Aceh termasuk dalam rumpun bangsa Melayu, yaitu; Mantee (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain sebagainya, yang berasal dari negeri Perak dan Pahang di tanah Semenanjung Melayu.Semua bangsa tersebut erat hubungannya dengan bangsa Phonesia dari Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, India. Bangsa Mante di Aceh awalnya mendiami Aceh Besar, khususnya di Kampung Seumileuk, yang juga disebut Gampong Rumoh Dua Blah.
 Letak kampung tersebut di atas Seulimum, antara Jantho danTangse. Seumileuk artinya dataran yang luas. Bangsa Mante inilah yang terus berkembang menjadi penduduk Aceh Lhee Sagoe (di Aceh Besar) yang kemudian ikut berpindah ke tempat-tempat lainnya. Sesudah tahun 400 Masehi, orang mulai menyebut ”Aceh” dengan sebutan Rami atau Ramni. Orang-orang dari Tiongkok menyebutnya lan li, lanwu li, nam wu li, dan nan poli yang nama sebenarnya menurut bahasa Aceh adalah Lam Muri. Sementara orang Melayu menyebutnya Lam Bri (Lamiri). Dalam catatan Gerini, nama Lambri adalah pengganti dari Rambri (Negeri Rama) yang terletak di Arakan (antara India Belakang dan Birma), yang merupakan perubahan dari sebutan Rama Bar atau Rama Bari.
4. Rouffaer, salah seorang penulis sejarah, menyatakan kata al Ramni atau al Rami diduga merupakan lafal yang salah dari kata-kata Ramana. Setelah kedatangan orang portugis mereka lebih suka menyebut orang Aceh dengan Acehm.

5. Sementara orang Arab menyebutnya Asji. Penulis-penulis Perancis menyebut nama Aceh dengan Acehm, Acin, Acheh ; orang-orang Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achin. Orang-orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh. Orang Aceh sendiri, kala itu menyebutnya Atjeh.

6. Informasi tentang asal-muasal nama Aceh memang banyak ragamnya. Dalam versi lain, asal-usul nama Aceh
lebih banyak diceritakan dalam mythe, cerita-cerita lama, mirip dongeng. Di antaranya, dikisahkan zaman dahulu, sebuah kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di Sungai Tjidaih (baca: ceudaih yang bermakna cantik, kini disebut Krueng Aceh).Para anak buah kapal (ABK) itu pun kemudian naik ke darat menuju Kampung Pande. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba mereka kehujanan dan berteduh di bawah sebuah pohon. Mereka memuji kerindangan pohon itu dengan sebutan, Aca, Aca, Aca, yang artinya indah, indah, indah. Menurut Hoesein Djajadiningrat, pohon itu bernama bak si aceh-aceh di Kampung Pande (dahulu),Meunasah Kandang. Dari kata Aca itulah lahir nama Aceh.

7. Dalam versi lain diceritakan tentang perjalanan Budha ke Indo China dan kepulauan Melayu. Ketika sang budiman itu sampai di perairan Aceh, ia melihat cahaya aneka warna di atas sebuah gunung. Ia pun berseru “Acchera Vaata Bho” (baca: Acaram Bata Bho, alangkah indahnya). Dari kata itulah lahir nama Aceh. Yang dimaksud dengan gunung cahaya tadi adalah ujung batu putih dekat Pasai.

8. Dalam cerita lain disebutkan, ada dua orang kakak beradik sedang mandi di sungai. Sang adik sedang hamil. Tiba-tiba hanyut sebuah rakit pohon pisang. Di atasnya tergeletak sesuatu yang bergerak-gerak. Kedua putri itu lalu berenang dan mengambilnya. Ternyata yang bergerak itu adalah seorang bayi. Sang kakak berkata pada adiknya “Berikan ia padaku karena kamu sudah mengandung dan aku belum. ”Permintaan itu pun dikabulkan oleh sang adik. Sang kakak lalu membawa pulang bayi itu ke rumahnya. Dan, ia pun berdiam diri di atas balai-balai yang di bawahnya terdapat perapian (madeueng) selama 44 hari, layaknya orang yang baru melahirkan. Ketika bayi itu diturunkan dari rumah, seisi kampung menjadi heran dan mengatakan: adoe nyang mume, a nyang ceh (Maksudnya si adik yang hamil, tapi si kakak yang melahirkan).

9. Mitos lainnya menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang anak raja yang sedang berlayar, dengan suatu sebab kapalnya karam. Ia terdampar ke tepi pantai, di bawah sebatang pohon yang oleh penduduk setempat dinamaipohon aceh. Nama pohon itulah yang kemudian ditabalkan menjadi nama Aceh.

10. Talson menceritakan, pada suatu masa seorang puteri Hindu hilang, lari dari negerinya, tetapi abangnya kemudian menemukannya kembali di Aceh. Ia mengatakan kepada penduduk di sana bahwa puteri itu aji, yang artinya ”adik”. Sejak itulah putri itu diangkat menjadi pemimpin mereka, dan nama aji dijadikan sebagai nama daerah, yang kemudian secara berangsur-angsur berubah menjadi Aceh.

11. Mitos lainnya yang hidup di kalangan rakyat Aceh, menyebutkan istilah Aceh berasal dari sebuah kejadian, yaitu istri raja yang sedang hamil, lalu melahirkan. Oleh penduduk saat itu disebut ka ceh yang artinya telah lahir. Dan, dari sinilah asal kata Aceh.

12. Kisah lainnya menceritakan tentang karakter bangsa Aceh yang tidak mudah pecah. Hal ini diterjemahkan dari rangkaian kata a yang artinya tidak, dan ceh yang artinya pecah. Jadi, kata aceh bermakna tidak pecah.

13. Di kalangan peneliti sejarah dan antropologi, asal-usul bangsa Acehadalah dari suku Mantir (Mantee, bahasa Aceh) yang hidup di rimba raya Aceh. Suku ini mempunyai ciri-ciri dan postur tubuh yang agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. Diduga suku Manteu ini mempunyai kaitan dengan suku bangsa Mantera di Malaka, bagian dari bangsa Khmer dari Hindia Belakang.


Continue reading...

Monday, April 10, 2017

Ekonomi Aceh Melemah Rakyat Menjerit

Ekonomi Aceh Melemah Rakyat Menjerit

BANDA ACEH - Dalam enam tahun (2011-2016), pertumbuhan ekonomi Aceh selalu di bawah pertumbuhan ekonomi nasional, fluktuatif dan mengalami kontraksi minus 0,72 persen pada 2015.
Pertumbuhan ekonomi Aceh pada 2011 tercatat 3,28 persen, kemudian 2012 naik jadi 3,85 persen, namun mulai menurun pada 2013 menjadi 2,61 persen dan 2014 menjadi 1,55 persen hingga mengalami kontraksi minus 0,72 persen. Meskipun pada 2016 kembali positif namun hanya 3,30 persen secara kumulatif dibandingkan tahun sebelumnya.
Data-data tersebut dipaparkan Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Dr Arif Budimanta dalam Focus Group Discussion (FGD) Regional Growth Strategy menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, merata dan berkualitas, di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Selasa (28/2). Diskusi tersebut dihadiri Kepala Bappeda Aceh, Zulkifli Hasan, Kepala Otoritas Jasa Keuangan perwakilan Aceh, Ahmad Wijaya Putra, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Wahyudin MM, perwakilan dari BI serta Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Aceh, serta pengamat ekonomi Aceh, Rustam Effendi MEcon, dan pengusaha.
MENARIK membaca dan menganalisis berbagai indikator ekonomi Aceh yang cenderung negatif sebut saja penganguran Aceh berkisar pada angka 8% lebih dari angkatan kerja atau di atas rata-rata Nasional pada kisaran 5%, angka kemiskinan di provinsi Aceh juga sangat kronis mencapai angka 18% dari jumlah penduduk, angka ini juga di atas rata-rata tingkat kemiskinan Nasional berkisar pada 10%.
Laju pertumbuhan ekonomi PDRB atas dasar harga konstan jauh lebih rendah dari perumbuhan ekonomi secara nasional 1,65%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi secara Nasional pada kisaran 5-6%, indikator lainnya adalah tingkat pendapatan perkapita masyarakat Aceh berkisar Rp 26 juta/kapita yang berada dibawah rata-rata nasional Rp 42 juta per kapita. Hal ini mencerminkan rendahnya daya beli masyarakat sehingga tidak salahnya apabila posisi perekonomian Aceh berada dalam posisi mati suri.
Kondisi perekonomian yang sedang “matisuri” ini menjadi tantangan bagi para pemimpin di Aceh untuk melaksanakan terobosan sebagai “terapi kejut” untuk menguatnya kembali urat nadi perekonomian Aceh, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru, pengurangan angka kemiskinan, serta peningkatan tingkat pendapatan masyarakat.
Faktor kelemahan
Kelemahan perekonomian Aceh dapat dipetakan pada tiga kelemahan utama yaitu: Pertama, tidak memiliki industri hilir yang mengolah bahan-baku menjadi bahan setengah jadi dan bahan jadi. Aceh memiliki sumber daya alam mineral minyak bumi, gas, batubara, batu mulia, emas, dan kekayaan dibidang perkebunan kelapa sawit, karet, pinang, kelapa, nilam, serta hasil laut dan budidaya ikan air tawar. Namun sayangnya, tidak dibarengi dengan pembangunan kawasan industri seperti kawasan industri Belawan, Sumatra Utara.
Hal ini mengakibatkan tidak ada nilai tambah produk yang dihasilkan di Aceh. Bahkan sebaliknya nilai tambah produk dinikmati oleh provinsi lain seperti Sumatra Utara. Hal inilah yang mengakibatkan rendahnya penyerapan tenaga kerja di provinsi Aceh dan tinggi ketergantungan Aceh dengan provinsi Sumatra Utara.
Kedua, kurangnya sinkronisasi dalam pembangunan antara provinsi dan kabupaten serta antara kabupaten dengan kabupaten lainnya. Hal ini terlihat dari pembangunan infrastruktur di Aceh yang belum terkoordinir antarprovinsi dan kabupaten. Dana alokasi khusus dari pemerintah pusat yang mencapai Rp 6-7 triliun setiap tahunnya, tidak fokus pada penguatan satu per satu infrastruktur di Aceh, misalnya pembangunan pelabuhan yang merata di tiap-tiap kabupaten yang semestinya digunakan untuk membangun pelabuhan peti kemas terbesar di Sumatera dengan dana patungan.
Ekonomi Aceh Melemah Rakyat Menjerit

Tantangan lainnya yang akan mengakibatkan mati surinya perekonomian Aceh adalah melemahnya perekonomian Indonesia akibat dari melesunya perekonomian global. Bank Dunia melaporkan pertumbuhan ekonomi Cina yang stagnan 6,7% yang berakibat pada nilai ekpor komoditi Indonesia dan juga tentunya provinsi Aceh.
Mencegah ‘matisuri’ 
Untuk mencegah perekonomian yang loyo di tahun politik 2017, ada beberapa langkah yang disarankan kepada pemerintah yaitu: Pertama, penguatan sektor pertanian dan perkebunan karena sebagian masyarakat Aceh bermatapencarian sebagai petani. Karena itu, pemerintah daerah perlu memprioritaskan sektor pertanian dan perkebunan dengan menghidupkan kembali koperasi unit desa (KUD) yang dikelola secara profesional bekerja sama dengan pihak swasta.
Artinya, KUD menjadi bank-bank desa yang memiliki staf yang membantu petani mengurus kredit, memasarkan, menyimpan, dan mengelola usaha pertanian dan perkebunannya. KUD memiliki sistem kerja seperti unit bank yang tenaga kerja berasal dari kalangan profesional yang dikontrak oleh pemerintah daerah.
Kedua, penguatan sektor industri, dengan dana otonomi khusus (otsus) digunakan untuk membangun pabrik milik pemerintah seperti pabrik CPO, pabrik minyak goreng seperti halnya Bank Aceh maka perusahaan ini akan menyerap tenaga kerja dan menciptakan keuntungan bagi daerah. Contohnya pabrik CPO di dua lokasi Aceh Tamiang dan Nagan Raya, pabrik minyak goreng di Aceh Utara, pabrik Ikan di Aceh Selatan, pelabuhan peti kemas di Aceh Besar.
Ketiga, sektor pariwisata dengan menjadikan Aceh sebagai pusat peradaban Islam Nusantara sebagai daerah pertama masuknya Islam ke Indonesia dan juga ASEAN. Pemerintah daerah perlu mempromosikan kelebihan Aceh dibandingkan dengan provinsi lainnya dari sektor pariwisata religi dan kuliner halal. Dengan terbukanya masyarakat ASEAN makan ada 550 juta penduduk ASEAN yang bebas berkunjung ke Aceh.
Dengan tiga terobosan ini akan mencegah perekonomian Aceh dari “matisuri” dan memacu urat nadi perekonomian rakyat Aceh 2017. Selamat memasuki tahun baru semoga masyarakat Aceh dapat tidur dengan perut kenyang dalam bumi Sultan Iskandar Muda yang bernafaskan pada khasanah Islam, Serambi Mekkah.
Sumber : internet
Continue reading...

Saturday, April 8, 2017

Sosok Makhluk Misterius Juga Muncul di Malaysia

Sosok Makhluk Misterius Juga Muncul di Malaysia

Setelah sebuah video penampakan sosok misterius diunggah ke YouTube, jagat Nusantara pun heboh. Hingga kini video yang diunggah akun Fredograpy itu sudah ditonton lebih dari 10 juta kali. Sosok pria tak berbaju yang tertangkap kamera di sebuah kawasan hutan Aceh itu diduga pria Mante yang berlari ke arah semak belukar untuk menyembunyikan diri dari pemotor trail yang berusaha mengejarnya. Namun, benarkah yang terekam itu sosok Mante atau remaja tanggung yang berlari ketakutan? Apa kata warga sekitar? ini pertanyaan yang misterius.
Sejarawan Belanda pun sudah mengendus adanya suku Mante ratusan tahun lalu. Sebagian suku kerdil ini juga diduga masih mendiami wilayah Malaysia. 27 Tahun silam, wartawan Serambi sempat mencari Mante ke hutan belantara di Aceh.
Di bumi yang sudah semodern sekarang, masih ada suku-suku tak terduga yang berdiam di tempat tersembunyi. Indonesia sendiri yang memiliki beribu-ribu suku jadi salah satu alasan mengapa masih ada makhluk-makhluk begitu. Tidak menutup kemungkinan makhluk itu nyata adanya di indonesia.
Dugaan sementara makhluk tersebut bukanlah hantu atau makhluk astral, melainkan orang Mante. Mante adalah suku purba yang dikabarkan sudah punah, mereka memang sejenis makhluk kecil Melayu yang tergolong sangat tua.Dari informasi di internet, makhluk ini disebut punah karena sudah bercampur dengan suku bangsa pendatang lainnya.
Sekarang beredar kembali video penampakan sosok makhluk aneh yang mirip. Kali ini lokasinya bukanlah dari Indonesia, tetapi diduga dari negara tetangga, Malaysia.
Telah tertangkap kamera sosok makhluk misterius yang berjalan di sebuah parkiran mobil. Dikutip dari situs stomp.com, makhluk tersebut tampak menyeberangi mobil dengan gerakan cepat.
Continue reading...

Friday, March 31, 2017

Jepang Tawarkan Bantuan Hibah untuk Banda Aceh

aceh
Konsulat Jenderal Jepang yang berkedudukan di Medan, Sumatera Utara menawarkan kerjasama Sister City antara beberapa kota di Jepang dan Banda Aceh. Selain itu negara matahari terbit itu juga menjelaskan skema bantuan ekonomi berupa bantuan dana hibah.

Daiki Yokoyama, Konsul Muda di Konsulat Jenderal Jepang mengatakan, salah satu kota yang mungkin cocok untuk menjadi sister city-nya Banda Aceh yakni Mano Town yang terletak di Sado Island dalam Prefektur Niigata. “Mano Town merupakan daerah pesisir dan maju sektor pariwisatanya.


“Jika sudah menjadi sister city, tentu lebih banyak hal yang bisa dikerjasamakan kedua kota mulai dari bidang lingkungan hingga pendidikan. Bentuk kerjasamanya juga akan bisa lebih intens dan fokus. Saya siap menjembatani dan mempersiapkan segala dokumen atau berkas kerjasama sister city antara kota-kota di Jepang dan Banda Aceh,” ungkapnya.

Terkait bantuan dana hibah dari Pemerintah Jepang, Yokoyama menyebutkan setiap tahunnya Konsulat Jenderal Jepang di Medan mendapat empat proyek yang masing-masing bernilai maksimal Rp 1 miliar.

“Penerima bantuan hibah ini bisa pemerintah, yayasan, asosiasi, lembaga pendidikan atau lembaga lainnya yang berbadan hukum,” kata dia dihadapan Sekda Kota Banda Aceh, Bahagia saat melakukan kunjungan kerjanya ke Balai Kota, Rabu (29/3/2017).

Target programnya antara lain menyangkut layanan kesehatan dan pendidikan dasar, pengentasan kemiskinan, penanggulangan pengungsi, dan perlindungan manusia dari kekerasan. Termasuk proyek fisik seperti pembangunan gedung sekolah, pusat rehab Narkoba, pengadaan mobil Damkar dan ambulans, fasilitas air bersih dan irigasi.

“Saya kemari untuk mencari informasi terkait potensi Banda Aceh yang berhubungan dengan tawaran kerja sama sister city dan bantuan hibah dari Pemerintah Jepang. Tugas saya mempromosikan informasi daerah-daerah di Indonesia kepada masyarakat Jepang,” demikian Daiki Yokoyama. 


Sumber Berita : http://www.acehterkini.com
Continue reading...